To much noise

21st June 2018

Solo.

There was so much noise everywhere, traffic, motor exhaust, bus sirine, also visual noise created by baligo, banner, mass media, and so on. All of the noise seem like blurring the human nature. The connection between human and trees, air, water, universe. Seem like they all covered by a certain massive weird ideology that they didn’t realized. Maybe capitalism, socialism, religionism, nationalism, and the other ism. And most of them looks like just being the victim of those kind of ism.

The pure heart is still there. That the only our hope for human kind. New generation, new thought, new behaviour, new way of life from the clear mind would guide others to continue the civilization.

Advertisements

Teknologi Terapan

Teknologi secanggih apapun sepertinya akan bisa teraplikasikan di masyarakat hanya jika dipadankan atau dipaketkan dengan suatu bisnis yg diterima masyarakat.

Itulah kenapa project project teknologi terapan ke hilir dari pusat biasanya hanya berlaku kurang dari setahun, setelahnya hanya jadi mesin rongsok saja, alasannya klasik karena rusak, tidak ada maintanance, tenaga ahlinya jauh, sparepart mahal, dsb dsb.

Kekeliruan Kurikulum

Ada satu syarat supaya sebuah ilmu bisa dipahami dan dirasakan betul oleh siswa, yaitu minat atau ketertarikan siswa itu sendiri terhadap sebuah atau serangkaian ilmu. Adapun metode pengajaran pada sistem pendidikan kita adalah dengan cara menjejalkan ilmu pengetahuan, tidak perduli siswa tersebut tertarik atau tidak.

Sementara ketertarikan siswa biasanya adalah terletak pada sebuah fenomena tertentu, bukan pada subjek mata pelajaran tertentu. Seorang siswa SMP misalnya tidak akan ujug-ujug senang dengan fisika. Adapun ketertarikan dia biasanya adalah pada fenomena fisis nya. Dari fenomena tertentu itulah seorang guru dapat menanamkan pelajaran pelajaran terkait fenomena tersebut. Tentunya pengetahuan seperti ini akan lebih melekat pada siswa yang notabene juga sedang sangat antusias dalam mempelajari fenomena tadi.

Paradox Mata

Have you ever wonder why we have two eyes. Two hands, two legs, two lungs, but the other is just a single organ.

Oke, berawal dari kesunyian tiada bertuan sehingga muncul pertanyaan kenapa yq mata kita berjumlah dua, padahal keduanya sama2 terletak didepan (muka), bukan dikiri-kanan wajah seperti halnya pada ayam. Bukankah dengan 1 mata kita melihat tidak jauh berbeda dengan perspektif 2 mata. Apa alasannya diciptakan 2 mata gumanku. Pasti ada sesuatu fungsi tertentu yang bukan hanya sekedar pemanis, atau supaya seimbang, indah, enak dilihat, bukan itu, pasti ada sesuatu yang lebih dalam maknanya. Bersambung.

Sampai tiba lagi2 berdiskusi dengan kerabat.

40 Hari mencari Cinta

Life is like buttefly 

Sometimes we’ve had to stand still for 40 days long 

Dan perumpamaan ulat menjadi kupu kupu adalah simbol nyata dari alam. Simbol perubahan dari bad look menjadi good look or even gorgeous. 

My statement tonight or today is that I’ll finish the journey of 40 days metamorfosa process. 

Not to become pretty or somekind, but i would like to know whos, whom, whose i’ve had loved to. And how much the porposional.

Hari ke 1 – langsung dihadapkan pada cobaan kemarahan, sempat jengkel tp seketika teredam namun terpendam. Selain itu juga kemalasan. Tapi sedikit lumayan berkomunikasi dan menetapkan niat walaupun effort untuk menuju niat tsb sangat sulit.

Hari ke 2 – sepertinya gagal saur, gagal bergadang. Kita lihat saja selanjutnya seperti apa.

Lirik Lagu

Rasa rasa berawal dari meniti tujuan

Tujuan tujuan berawal dari harapan

Harapan berawal dari cinta kasih

Cinta cinta berawal dari entah dari mana

Cinta datang nya tak disangka tak dinyana
Kuingin temukan cinta yang sejati

Cinta kasih yang keluar dari jiwa jiwa

Yang tenang.. 

Yang damai..

Yang merasa..

Yang tak tercemari oleh keinginan..

Yang murni dari dalamnya hati..

Bergeraklah dari Zona Nyaman

Terkadang dalam menjalani hidup kita perlu terlabih dahulu mengenal Tuhan. Tapi manakala tak kunjung mengerti tentang-Nya, waktu terus berjalan yang mana tubuh ini membutuhkan asupan zat untuk proses metabolisme. Kasarnya perlu makan.

Notabene di kehidupan moneter kapitalistik saat ini, makan itu identik dengan uang. Tak ada uang, kita tidak bisa makan. Untuk mendapatkan uang kita harus bekerja, bisa menjadi buruh pabrik, karyawan kantoran, jualan barang, dan lain sebagainya.

Lalu dimana salah nya. Ya tentu tidak ada yang salah. Hanya saja sangat disayangkan apabila sepanjang kita hidup hanya dihabiskan untuk makan saja. Bukankah bekerja yang dimaksud tadi adalah perpanjangan tangan dari makan.

Memang kondisi perekomonian negara kita memang menyudutkan kita untuk bekerja keras untuk mencari makan.

Entah kenapa, terpikir saja kalau seandainya bekerja untuk makan ini segera berakhir dan berganti menjadi bekerja untuk aktualisasi, dengan catatan kebutuhan makan nya harus sudah terpenuhi. Artinya kita tidak bisa berlama-lama dalam lingkaran pekerjaan yang itu-itu saja, harus ada semacam auto income, atau passive income. Artinya lagi kita harus berpikir keras, dan bekerja cerdas, untuk bisa meng-akal-i bgaimana caranya untuk bisa dapat penghasilan dengan kerja cukup diawal saja. Sekali bekerja tapi hasilnya terus-menerus.

Dengan modal pendapatan passive, artinya selanjutnya kita bisa bekerja pada zona bakat dan peranan kita sesungguhnya dalam peradaban manusia. Aktualisasi diri, penjawantahan diri, bekerja sesuai perintah ruh suci, dibimbing oleh hati nurani.