Rasa (Roso)

Jangan-jangan lahirnya kesenian tradisional (seni tari, dll) adalah perwujudan dari rasa (roso), ekspresi atau cara syukur pada sang Hyang Tunggal. Artinya bentuk kesenian-kesenian tersebut merupakan sebuah bentuk ritual sebagaimana shalat, zakat dan puasa dalam ajaran salah satu agama. Sepertinya segala macam ritual dalam berbagai agama dan aliran kepercayaan itu tidak lain adalah merupakan cara manusia untuk mencintai Tuhannya. Ku rasa tidak ada yang salah mengenai bentuk ritual yang berbeda-beda itu.

Ekspresi jiwa bisa diungkapkan dengan cara mencium, memeluk, merangkul, bersimpuh, bersujud, terlentang, telungkup, atau bahkan hanya diam namun ternyata hatinya bersyukur.

 

Menari tradisional misalnya, perlu adanya kesatuan antara batin dengan setiap jementik jari. Persatuan jiwa dengan gerakan badan. Karena gerakan ritual seyogyanya adalah didasari rasa (roso).

Jika kita menarik jarak pandang agak menjauh, maka sangat mungkin segala sesuatu terkait tingkah polah kehidupan kita pada dasarnya pernah berawalan dari rasa (roso) itu tadi. Pendidikan misalnya, cara berguru, cara mendidik, cara menjadi murid,  dll seharusnya ada benang merah yang bisa ditarik langsung dari rasa (roso). Berumah-tangga, seharusnya pula ada kajian rasa (roso) nya. Bertetangga, bersosial, sampai urusan berbangsa & bernegara, sudah pasti seharusnya ada tali rasa (roso) nya. Yang paling terlihat mungkin adalah pada saat prosesi pernikahan, biasanya orang memandang rumit tentang pernak-pernik adat, namun sejatinya hal-hal tersebut lahir dari kajian batin yang mendalam.

 

Ambil contoh lain mengenai pendidikan sub-bab ‘cara menjadi murid’. Ada norma-norma murid pada gurunya, yang semestinya disadur dari normatif perihal interaksi manusia dengan Tuhannya. Ada satu hal yang ku tahu bahwa untuk berguru jangan terlalu banyak bertanya, cukup lakukan saja, perhatikan, ikuti arahannya dan praktekkan. Bertanya boleh, tapi tidak membantah. Mengenai hal ini, bahkan pernah diceritakan dalam cerita para Nabi bahwa Musa pernah gagal dalam berguru pada Khidir hanya karena sekedar bertanya.

Masa Kecil, Masa Lupa?

Berawal dari pertanyaaan seorang sarjana muda. Kenapa ya kita bisa lupa? Kenapa kita bisa lupa tentang apa saja sewaktu kita masih kecil. Hanya satu dua kejadian saja yang kadang terlintas. Apalagi saat bayi, jelas gak ingat blas. Dimana letak memori itu? Apakah di otak. Dan memori kecil kita seolah terkubur dalam-dalam sehingga kita tidak bisa ingat.

Adapun saat kita meniatkan menyimpan memori pelajaran dari sekolah, kita memang bisa ingat namun hanya dalam kurun waktu beberapa tahun saja. Begitu pula saat kuliah atau bekerja, kita isi otak kita dengan memori-memori baru, dan kita ingat namun dijamin tidaklah lama.

Berbeda saat file-file ingatan ditanamkan saat kita kecil. Walaupun kita tidak ingat, namun efeknya adalah sebuah rasa yang tertinggal dan terbawa menjadi karakter seumur hidup.

Mungkin ini yang dinamakan ingatan bawah sadar. Saat masih kecil, otak dan hati kita dengan polosnya menerima semua input dari lingkungan. Rasa senang, rasa sedih, rasa marah, rasa haru, rasa hormat, rasa takut, rasa heroik, masuk ke alam bawah sadar, dan tersimpan melekat kuat dalam diri anak dan kelak menjadi pembentuk karakter anak itu setelah dewasa.

Sementara itu setelah menjelang dewasa, kopolosan anak sudah mulai tidak polos. Porsi rasa pada hati mulai berkurang namun masih dominan. di fase ini lah kita masih bisa mengingat kejadian lampau. Kemudian saat dewasa, orang-orang mengutamakan logika dan akalnya untuk mengingat, berfikir, dan bertindak. Oleh karenanya rekaman tersebut kadang kala tidak masuk ke alam bawah sadar, hanya terdapat pada permukaan ingatan. Artinya ingatan-ingatan tsb akan diingat kuat pada beberapa tahun pertama saja selebihnya, lupa.

Yang tidak terlupakan namun kita lupa adalah justru yang kita alami saat kita masih kecil, dididik oleh ibu bapak kita. Disitu lah ditanamkan benih2 kebaikan, kesopanan, rasa sayang, rasa mensyukuri, rasa empati, penghormatan, bahkan cara pengambilan keputusan, Hal2 positif tersebut yang kita lupa secara ingatan, namun tubuh kita, hati kita, rasa kita, DNA kita, bahkan mungkin ruh kita bekerja berdasarkan itu. Inilah alam bawah sadar. Inilah krusialnya masa anak-anak. Disinilah kita wajib berbaik-baik pada orang tua dan para guru. Cinta yang mereka tanamkan pada alam bawah sadar kita, sejatinya adalah menjadi faktor dominan menjadi seperti apa kita sekarang.