Bergeraklah dari Zona Nyaman

Terkadang dalam menjalani hidup kita perlu terlabih dahulu mengenal Tuhan. Tapi manakala tak kunjung mengerti tentang-Nya, waktu terus berjalan yang mana tubuh ini membutuhkan asupan zat untuk proses metabolisme. Kasarnya perlu makan.

Notabene di kehidupan moneter kapitalistik saat ini, makan itu identik dengan uang. Tak ada uang, kita tidak bisa makan. Untuk mendapatkan uang kita harus bekerja, bisa menjadi buruh pabrik, karyawan kantoran, jualan barang, dan lain sebagainya.

Lalu dimana salah nya. Ya tentu tidak ada yang salah. Hanya saja sangat disayangkan apabila sepanjang kita hidup hanya dihabiskan untuk makan saja. Bukankah bekerja yang dimaksud tadi adalah perpanjangan tangan dari makan.

Memang kondisi perekomonian negara kita memang menyudutkan kita untuk bekerja keras untuk mencari makan.

Entah kenapa, terpikir saja kalau seandainya bekerja untuk makan ini segera berakhir dan berganti menjadi bekerja untuk aktualisasi, dengan catatan kebutuhan makan nya harus sudah terpenuhi. Artinya kita tidak bisa berlama-lama dalam lingkaran pekerjaan yang itu-itu saja, harus ada semacam auto income, atau passive income. Artinya lagi kita harus berpikir keras, dan bekerja cerdas, untuk bisa meng-akal-i bgaimana caranya untuk bisa dapat penghasilan dengan kerja cukup diawal saja. Sekali bekerja tapi hasilnya terus-menerus.

Dengan modal pendapatan passive, artinya selanjutnya kita bisa bekerja pada zona bakat dan peranan kita sesungguhnya dalam peradaban manusia. Aktualisasi diri, penjawantahan diri, bekerja sesuai perintah ruh suci, dibimbing oleh hati nurani.

 

Advertisements

Gagal Total Sholat

Kembali lagi tentang urusan urutan rukun Islam. Syahadat, shalat, puasa, zakat dan naik haji. Mungkin rukun Islam adalah urutan, bukan hanya tuntunan. 

Berpuluh-puluh ruku ku dalam sholat bisa-bisa sia-sia belaka, lha wong syahadat nya saja belum lulus, berani-berani sholat, bahkan puasa, bahkan zakat. Bisa-bisa gagal total kan.

Dalam syahadat saja ada 2 kalimat. Kalimat pertama saja belum tentu lulus, apalagi kalimat berikutnya. Untuk kalimat pertama saja butuh lulus menjadi manusia dulu, perlu kenal tuhan dulu, perlu kenal ketiadaan tuhan dulu supaya bisa menyimpulkan tiada tuhan selain. Padahal ada pepatah untuk kenal tuhan maka harus mengenali diri sendiri. Jangan-jangan syahadatku pun gagal total karena jangankan ranah ketuhanan, mengenai mengenal diri sendiri saja belum dapat dinyatakan lulus. 

Jadi kalau ditanya agamanya apa? maka boleh bilang “berusaha islam”. Karna Islam terlalu sempurna. Sementara kita ini apalah prestasi kita. Kenal diri sendiri saja belum tentu. 

Langkah pertama untuk mengenal Tuhan, kenalilah dirimu sendiri

NN’

Keserian Mata Pelajaran

Jika baterai dirangkai secara paralel maka akan didapat arus bertambah dengan voltase tetap. Sebaliknya jika dirangkai seri maka voltase bertambah, arusnya yang tetap. Kombinasi arus dan tegangan ini yang kita namakan daya listrik (power). Power = Voltage x Current atau Daya = Tegangan x Arus. 

Adapun fungsi dari daya ini adalah untuk menggerakan beban. Jika beban nya kecil maka arusnya hanya perlu sedikit. Jika ingin ditambahkan baterai maka rangkailah secara seri. Supaya arusnya tetap kecil dan tidak membakar beban.

Lalu apa hubungannya dengan kurikulum. Nah pada umumnya sekolah-sekolah mulai dari dasar sampai tingkat tinggi menerapkan sistem mata pelajaran paralel. Yang mana dalam satu waktu siswa diharuskan mempelajari banyak mata pelajaran sekaligus. Misalnya dalam periode satu hari saja, ada berapa mata pelajaran sewaktu SMP kita dulu? Mungkin sekitar 4-6 mata pelajaran bukan? Jika dilihat dalam periode 1 bulan, maka kira-kira ada berapa mata pelajarankah yang dipelajari? 10? 12?15? Artinya dalam sebuah periode waktu, seorang anak harus berfikir paralel sekaligus. Padahal seumuran itu belumlah cukup umur dalam menanggung beban yang simultan.

Mata pelajaran ini bisa dianalogikan seperti sebuah baterai. Yang apabila akan diajarkan pada anak haruslah pas positif negatif dan seri paralelitasnya. Positif negatif artinya kadar kedalaman materi ajar, dan seri paralel adalah penyusunan mata pelajaran berurutan atau sekaligus. 
Contoh penyusunan mata pelajaran secara seri misalnya dalam 1 bulan pertama kegiatan ajar, mata pelajarannya cukup 1 saja, namun dibuat lebih intens dan yang paling penting adalah disesuaikan dengan antusias si anak itu sendiri. 

Sementara contoh paralel, adalah penyusunan beberapa (atau banyak) mata pelajaran dalam satu waktu. Misalnya dalam satu hari ditetapkan jam pertama belajar ilmu A, jam kedua ilmu B, jam ketiga ilmu C, dst. Yang mana A,B,C dll tsb merupakan percabangan ilmu, yang tidak terkait satu sama lain. 

Bukankah akan lebih meresap pada anak apabila yg dipelajari adalah pelajaran yang diantusiasi anak itu sendiri dan secara kontinyu dipelajari sampai tingkat pemahaman yang lebih dalam, serta tidak diinterupsi oleh pelajaran-pelajaran lain yang malah menghilangkan fokus. Inilah pentingnya penyusunan mata pelajaran secara seri (bukan paralel) pada tingkat sekolah dini.

Syahadat – Tentang menemukan jati diri

Dari kelima rukun Islam yang selama ini kita kenal, sepertinya berpola sebagai urutan. Dimulai dari syahadat, lalu shalat dan seterusnya.  Pola urutan ini seolah menyimbolkan tahapan kehidupan manusia. Yang mana manusia yang telah matang, mengetahui jati diri, peran diri, tujuan hidup, telah sampai pada tahapan menjadi manusia yang manusia berada pada titik memulai perjalanan syahadat. Menemukan diri, menemukan yang diluar diri, menyaksikan Yang Maha, serta berendah diri untuk menghamba lalu bersaksi ada seseorang Muhammad yang menjadi utusanNya yang kita bersepakat dan percaya pada beliau. 

Intinya adalah bahwa untuk memulai syahadat, manusia perlu berada pada level kesadaran telah menjadi manusia yang mengerti dan berhasil mengenal diri serta telah berperan sesuai kehendakNya. Karena hanya dengan mengenali diri dahululah kita baru bisa mengenal Tuhan, lalu berlanjut mengagumi, lalu menyayangi, mengasihi, mencintai, kemudian bersaksi, bersyahadat dan dari situlah baru kita bisa memasuki tahapan berikutnya yakni shalat, zakat dan sebagainya.