Eksploitasi Marukiyah

Pernah ku berkunjung ke suatu kawasan peternakan ayam broiler di Jawa Tengah. Aku masuk ke salah satu kandang yang bangunannya sangat sangat panjang, memanjang sepanjang 100 meter, dengan lebar bangunan kira-kira 10 meteran. Betapa bertambah kaget saat ku tahu penghuni bangunan tersebut adalah puluhan ribu ekor ayam yang sengaja dibesarkan hingga nanti umurnya cukup untuk pindah ke rumah jagal, alias rumah pemotongan ayam.

Perlahan-lahan kulangkahkan kaki, berhati-hati supaya tidak menginjak ayam-ayam yang umurnya sudah bisa dipastikan hanya 1 bulan saja atau sesuai berat yang diperlukan oleh restoran-restoran. Dalam radius 1 meter ku berdiri ada puluhan ekor anak ayam yang saling bergerumun, sangat padat.

Singkat cerita aku pun pulang, dengan termenung. Rupa-rupanya bukan hanya alam, tambang, hutan saja yang dimanfaatkan sebesar-besarnya (baca:eksploitasi). Tapi juga hewan seperti ayam ini, berarti kemungkinan besar juga hewan lain: ikan, udang, kambing, sapi, kodok bahkan bisa jadi tumbuhan pula, dengan rekayasa genetika dan pupuk-pupuk kimianya.

Pikirku lagi, jangan-jangan berlaku pula pada manusia. Selama ini manusia bekerja hanya dimanfaatkan tenaganya, diperas keringatnya, diberdayakan pikirannya, dan dicuri kesetiannya. Manusia terpaksa menjual apa-apa yang berharga dari dirinya untuk ditukar dengan yang namanya materi. Tak sempat manusia untuk beraktualisasi diri, yang artinya bukankah ini juga termasuk dalam ketegori eksploitasi.

Dan tampaknya memang seluruh aspek dalam kehidupan kita telah dieksploitasi, dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk  keinginan-keinginan marukiyah manusia. Alam, hutan, lautan, daratan, hewan, tumbuhan, bahkan manusianya juga dieksploitasi manusia yang lain. Atau malah bahkan dengan tidak sadar manusia telah mengeksploitasi dirinya sendiri.

Kesimpulannya: Hari ini memang kita tidak bisa menghindari diri dari kegiatan mengeksploitasi, dan memang manusia ditanamkan akal yg sejatinya nya adalah anomali kehidupan. Karna dengan akal sudah pasti kita akan merubah sesuatu yang berjalan natural. Artinya eksploitasi adalah suatu keniscayaan, tinggal seberapa besar kuantitatif kualitatif kegiatan eksploitasi tersebut. Apakah melebihi kemampuan ekosistem natural untuk menyeimbangkan ataukah tidak. Namun apapun itu, kembali lagi pada niat. Jika niat awalnya baik semoga kehidupan menjadi lebih baik.