Ritual, Seharusnya Ekspresi Cinta

Apalah arti ritual-ritual ini, shalat, zakat, puasa dan haji bila bukan ungkapan ekspresi cinta pada Yang Kuasa.

Semenjak kecil aku mendapati shalat zakat ini dalam pelajaran agama. Semakin dewasa semakin dijejali sifat dogmatis wajib dari rukun Islam ini. Sering kali kulakukan ritual tersebut sampai akhirnya hampa, berasa kering tanpa makna. Rupa-rupanya ada satu tahapan yang aku lewati dalam interaksi hamba terhadap penciptanya.

Jika kita melihat pewaktuan turunnya perintah shalat. Nabi Muhammad SAW baru mendapat perintah itu setelah sekian lamanya mengalami cinta kepada Allah SWT, barulah di usia beliau yang ke 50, atau 10 tahun usia kenabiannya, beliau mendapatkan perintah shalat atau lebih tepatnya mendapatkan wahyu mengenai gerakan shalat, gerakan yang merupakan ekspresi dari cinta yang sudah bertahun-tahun sebelumnya dialami.

Jadi shalat menurutku adalah ungkapan cinta berupa gerakan yang sudah diracik sedemikian rupa sehingga terlihat pantas dan wangun, serta memiliki arti simbolik mengenai hubungan hamba dengan Tuhannya.

Alasan Shalat (1)

Karena untuk dapat pahala? Apa karena merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar? Apa karena takut akan dosa? Atau berharap menginginkan surga? Setiap kita pasti punya alasan personal sehingga kita melakukan syariat yang namanya shalat.

Namun ini adalah alasan saya, paling tidak untuk saat ini, entah besok atau lusa.

Saya sholat karena saya merasa tidak enak (jawa: ra kepenak) sama Tuhan. Saya agak sungkan. Ini nanti hubungannya dengan takdir, karena kalau kita melihat alam secara makro dan mikro maka takdir itu ternyata semuanya yang menentukan adalah Tuhan. Mulai dari pembentukan alam semesta, meledaknya supernova, sampai ke mitokondria dan sel genetik pembawa DNA. Saya ini merasa tidak punya andil apa-apa. Saya mau jungkir balik, atau gelandang di jalan, atau diam saja juga tidak ada pengaruhnya buat alam makro dan mikro tadi.

Namun demikian, Tuhan cukup baik sudah memberikan sedikit haknya untuk bersama-sama menentukan takdir. Analoginya Tuhan itu sudah men-share saham-Nya ke manusia untuk membuat takdir. Mungkin kadarnya dibawah 1 %, dan itu pun dibagi-bagi ke semua mahluk ciptaannya. Jadi kesimpulannya saya merasa beruntung sudah diberi hak tersebut untuk bisa mengatur takdirku sendiri, mengatur jalan hidupku sendiri, mengatur langkah kakiku sendiri, dan beberapa lainnya yang bisa ku kendalikan sendiri. Dan yang paling mengasikkan adalah saya bisa memilih kepada siapa-siapa saja orang yang ingin saya bahagiakan.

Yang jelas, dengan pemahaman bahwa Tuhan men-share saham-Nya itu, saya menjadi lebih manusia. Manusia yang mencoba untuk lebih dinamis, bukan statis, bukan pula robot yang harus melakukan sesuatu berdasarkan perintah sang pembuatnya.

picture source https://flic.kr/p/fKQsE2